Deklarasi Bogor
Tahun 2020 Batas Realisasi Perdagangan Bebas
Bogor, Kompas
Pertemuan para pemimpin ekonomi Kerja Sama Ekonomi Pasifik (AELM/Asia
Pacific Economic Leaders Meeting) hari Selasa (15/11) di Istana Bogor,
sepakat untuk menetapkan tahun 2020 sebagai batas waktu pencapaian
perdagangan dan investasi yang bebas dan terbuuka di kawasan Asia Pasifik.
Kesepakatan yang tertuang dalam Deklarasi Tekad Bersama Para Pemimpin
Ekonomi APEC itu diungkapkan oleh Ketua AELM, Presiden Soeharto, dalam
jumpa persnya di Istana Bogor, Jawa Barat, Selasa petang (15/11).
AELM dihadiri pemimpin ekonomi dari 18 negara, terdiri dari Presiden RI
Soeharto, Presiden AS Bill Clinton, PM Kanada Jean Chretien, PM Jepang
Tomiichi Murayama, Presiden RRC Jiang Zemin, Presiden Korsel Kim Young-sam,
Presiden Filipina Fidel Ramos, PM Thailand Chuan Leekpai, PM Malaysia
Mahathir Mohamad, PM Singapura Goh Chok Tong, Sultan Brunei Hassanal
Bolkiah, PM Papua Niugini Sir Julius Chan, PM Australia Paul Keating,
PM Selandia Baru Jim Bolger, Presiden Meksiko Carlos Salinas de Gortari,
Presiden Cile Eduardo Frei, Menteri Kuangan Hongkong Sir Hamis Macleod, dan
Menteri Negara/Ketua Dewan Perencanaan dan Pengembangan Ekonomi Taiwan
Vincent C Siew.
"Tujuan jangka panjang APEC adalah menciptakan perdagangan dan investasi
yang bebas dan terbuka di kawasan Asia Pasifik Negara industri akan
mencapainya pada tahun 2010, sedangkan negara berkembang akan mencapainya
selambat-lambatnya tahun 2020," ujar Kepala Negara.
Usul untuk menetapkan tahun 2020 sebagai batas akhir itu datang dari usulan
Kelompok Tokoh Terkemuka APEC (EPG-Eminent Persons Group). Sebelum AELM,
sebagian besar anggota APEC menerima baik usulan tersebut, kecuali Cina dan
Malaysia. Cina bersikap hati-hati, sedangkan Malaysia berkeras menolaknya
karena menganggap APEC tidak mempunyai mandat untuk itu.
Presiden Seoharto yang dalam jumpa pers itu banyak senyum didampingi oleh
17 pemimpin ekonomi APEC, juga mengumumkan pemilihan Jepang sebagai tempat
penyelenggaraan AELM ke-3 tahun 1995.
Melalui AELM di Bogor ini, kata Presiden Seoharto, APEC telah menentukan
arah dan rancangan masa depan dari kerja sama ekonomi di Asia Pasifik.
Dan, semua itu dimaksudkan untuk memperbaiki prospek pertumbuhan ekonomi yang
cepat, seimbang, dan merata, baik itu di Asia Pasifik maupun di dunia.
Merancang masa depan
Lebih lanjut Kepala Negara mengatakan, apabila di AELM (1993) di Blake Island,
APEC dihadapkan pada belum adanya kepastian tentang penyelesaian Putaran
Uruguay, maka pada pertemuan di Bogor ini AELM dihadapkan pada berhasilnya
Putaran Uruguay, yang ditandai dengan disetujuinya Perjanjian Umum tentang
Tarif dan Perdagangan (GATT-General Agreement on Tariffs and Trade) tahun
1994, yang nantinya akan menjadi World Trade Organization (WTO).
Ditegaskan, momentum itulah yang dimanfaatkan oleh APEC untuk merancang masa
depan kerja sama ekonomi Asia Pasifik, khususnya mengenai liberalisasi
perdagangan, investasi, dan pembangunan ekonomi yang dilandasi oleh prinsip
prinsip GATT dan WTO.
Untuk menunjang perdagangan dan investasi telah digarisbawahi peningkatan
kerjasama dalam bidang sumber daya manusia, peningkatan infrastruktur ekonomi
iptek, lingkungan hidup, memajukan usaha menengah dan kecil, serta
mengikutsertakan usaha swasta.
AELM juga telah sepakat untuk menentukan landasan idiil konstitusional, dan
operasionalnya, untuk menjamin kerjasama ekonomi di Asia Pasifik yang
berkelanjutan. Kemitraan, saling menghormati, dan saling menguntungkan sebagai
landasan idiilnya, persetujuan GATT dan WTO sebagai landasan konstitusionalnya,
serta semua persetujuan APEC dengan prinsip yang kuat membantu yang lemah
sebagai landasan operasionalnya.
Ketika ditanya tentang bidang-bidang apa saja yang potensial untuk kerjasama,
Soeharto mengatakan, ini adalah tugas para menteri untuk menentukan, merinci,
dan meraksanakan hal itu. Untuk itu, para pemimpin ekonomi APEC akan
menugaskan para menteri dan pejabat masing-masing untuk segera menyiapkan
perincian keputusan-keputusan tersebut dan dilaporkaan kepada para pemimpin.
"Bagaimana gambaran keadaan ekonomi dunia tahun 2020 nanti?" tanya seorang
wartawan asal Jepang. Presiden Soeharto menjawab, gambaraannya harus lebih
baik dari keadaan sekarang. Dan, sambil berseloroh ia mengatakan,
"Mudah-mudahan umur Saudara cukup panjang untuk menyaksikan semua itu pada
waktunya nanti."
Apakah perkembangan cepat APEC juga akan mempercepat AFTA (Kawasan Perdagangan
Bebas ASEAN)? Presiden mengemukakan, "Kita harus kerja keras, membuat
rencana yang tepat atas dasar informasi yang tepat. Saat ini AFTA dipercepat
dari tahun 2008 menjadi 2003. Kalau AFTA buktikan bisa dipercepat maka APEC
tentunya juga bisa."
Utara-Selatan
Ditanya tentang apakah keberhasilan tercapainya komitmen politik untuk
mewujudkan perdagangan dan investasi yang bebas dan terbukaa di Asia Pasifik
dapat dipakai untuk mengembangkan Dialog Utara Selatan, Presiden Soeharto
mengemukakan, AELM ini sendiri sudah merupakan perwujudan dari Dialog Utara-
Selatan. Mengingat 18 negara APEC terdiri dari negara maju, negara industri
baru dan negara berkembang.
Dan, Pesan Jakarta (The Jakarta Messages) yang dihasilkan oleh KTT Gerakan
Non-blok di Jakarta (1992) yang juga telah menegaskan untuk mengadakan Dialog
Utara-Selatan telah dirintis dan telah menjadi keputusan PBB. Jadi,
sesungguhnya hanya tinggal melaksanakan saja Dialog Utara-Selatan itu.
Dengan diselenggarakannya AELM, maka sebetulnya APEC telah memelopori Dialog
Utara Selatan.
Ditanya tentang penyelesaian masalah Timor Timur secara tuntas, Presiden
Soeharto tidak menjawabnya secara langsung. Ia hanya mengatakan, "Kalau
ingin mendapatkan penjelasan tentang itu, maka nanti akan ada waktu yang
lebih tepat."
Sedangkan mengenai hak asasi manusia, Kepala Negara mengatakan, masalah itu
tidak dibahas dalam AELM. Tetapi APEC sudah merupakaan suatu pelaksanaan dari
dialog yang dimaksudkan untuk mendekatkan masalah yang dihadapi masing-masing
negara pesertanya.
"Yang terang kita ingin kerja bersama yang didasari oleh saling menghormati
dan saling menguntungkan. Dengan demikian, kalau memang ada suatu hal yang
ingin dibicarakan, maka hal itu bisa disampaikan dalam pertemuan bilateral.
Namun, itu tidak dilakukan dalam rangka koreksi, tetapi dalam rangka saling
membantu," Soeharto menegaskan.
Liberalisasi perdagangan
Deklarasi Tekad Bersama Para Pemimpin Ekonomi APEC dengan tegas menentang
keras pembentukan suatu blok perdagangan tertutup, serta bertekad mewujudkan
sistem perdagangan bebas dan investasi di kawasan yang mendorong dan memperkuat
liberalisasi perdagangan dan investasi di dunia sebagai satu keseluruhan.
Deklarasi ini menetapkan bahwa visi bagi ekonomi-ekonomi Asia-Pasifik
didasarkan pada pengakuan tumbuhnya saling ketergantungan ekonomi dan berbagai
kawasan yang terdiri dari ekonomi maju, industri baru, serta ekonomi berkembang
Dari pertemuan AELM ini disepakati bahwa para anggota ekonomi industri maju
di Asia Pasifik akan memberikan kesempatan-kesempatan bagi ekonomi berkembang
untuk meningkatkan pertumbuhan ekonominya serta tahap pembangunannya.
Bersamaan dengan itu, ekonomi-ekonomi berkembang akan berusaha untuk
mempertahankan laju pertumbuhan tinggi dengan tujuan untuk mencapai tahapan
kesejahteraan yang sekarang dinikmati oleh ekonomi industri baru.
"Pendekatan ini akan koheren dan komprehensif, mencakup tiga tiang pertumbuhan
yang berkelanjutan, pembangunan yang adil, dan stabilitas nasionaal.
Mempersempit kesenjangan dalam tahap-tahap pembangunan di kalangan ekonomi-
ekonomi Asia Pasifik akan menguntungkan seluruh anggota dan mempromosikan
pencapaian kemajuan ekonomi Asia-Pasifik secara keseluruhan," bunyi deklarasi
tersebut.
Dengan pandangan ini, para pemimpin ekonomi APEC sepakat bahwa laju pelaksanaan
akan dipertimbangkan sesuai dengan tingkat yang berbeda pembangunan ekonomi
di kalangan anggota APEC. Disebutkan, ekonomi industri akan mencapai tujuan
perdagangan dan investasi yang bebas dan terbuka sebelum tahun 2010,
sedangkan ekonomi berkembang mencapainya sebelum tahun 2020.
"Kita ingin memberikan penekanan penolakan kuat kita atas pembentukan blok
perdaganagan bersifat inward looking yang bisa mengalihkan tercapainyaa
perdagangan bebas global. Kita bertekad untuk melaksanakan perdagangan dan
investasi yang bebas dan terbuka di Asia-Pasifik, dengan cara yang akan
mendorong dan memperkuat liberalisasi perdagangan dan investasi di Asia
Pasifik tidak hanya pengurangan hambatan-hambatan aktual di kalangan ekonomi
APEC, tapi juga antara anggota APEC dan non-APEC," jelas deklarasi ini.
@X0FFasilitas Investasi
@X03Deklarasi Tekad Bersama AELM ini juga menyebutkan bahwa untuk melengkapi dan
mendukung proses liberalisasi yang penting ini, para pemimpin APEC memutuskan
untuk memperluas dan mempercepat program-program fasilitas investasi dan
perdagangan. Upaya ini akan lebih mempromosikan mengalirnya arus barang, jasa,
dan modal di kalangan anggota APEC dengan menghapuskan rintangan administrasi
dan lainnya atas perdagangan dan investasi.
"Kita memberikan penekanan pada pentingnya fasilitas perdagangan, karena
upaya-upaya liberalisasi perdagangan sendiri tidak memadai untuk membangkitkan
perluasan perdagangan," lanjut deklarasi ini.
Para pemimpin APEC juga telah meminta para pejabat dan menterinya masing-
masing untuk mengajukan proposal mengenai pengaturan tentang bea cukai,
standardisasi, prinsip-prinsip investasi, dan hambatan-hambatan administrasi
aatas akses pasar.
Para pemimpin APEC juga menyatakan penghargaannya atas rekomendasi-rekomendasi
penting yang termuat dalam laporan EPG dan Forum Bisnis Pasifik (PBF). "Kita
sepakat untuk meminta kedua kelompok ini untuk meneruskan kegiatannya
memberikan para pemimpin APEC penilaian-penilaian atas kemajuan APEC dan
rekomendasi selanjutnya untuk meningkatkan kerja sama anggota.
Para pemimpin APEC juga telah meminta EPG dan PBF untuk mengkaji hubungan
antara APEC dengan pengaturan-pengaturan sub-regional seperti Kawasaan
Perdagangan Bebas ASEAN (AFTA), Kawasan ANZERTA (Kawasan Regional Ekonomi
dan Perdagangan Australia-Selandia Baru), dan Kawasan Perdagangan Bebas
Amerika Utara (NAFTA), serta mengkaji kemungkinan pilihan-pilihan untuk
mencegah hambatan satu sama lain serta mempromosikan konsitensi hubungan-
hubungan tersebut.
(Kompas, Rabu, 16 November 1994)
No comments:
Post a Comment